<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Anggaantagia's Blog</title>
	<atom:link href="http://anggaantagia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anggaantagia.wordpress.com</link>
	<description>"berbagi dan menginspirasi"</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2009 23:20:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='anggaantagia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Anggaantagia's Blog</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anggaantagia.wordpress.com/osd.xml" title="Anggaantagia&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://anggaantagia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>berbagi dan menginspirasi</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/10/07/berbagi-dan-menginspirasi/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/10/07/berbagi-dan-menginspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 23:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggaantagia.wordpress.com/2009/10/07/berbagi-dan-menginspirasi/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=40&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=40&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/10/07/berbagi-dan-menginspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal Percaya Diri Generasi Muda</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/07/menyoal-percaya-diri-generasi-muda/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/07/menyoal-percaya-diri-generasi-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 02:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggaantagia.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[ <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=34&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Mereka bukan pemenang olimpiade internasional. Bukan pula penemu<span> </span>berbagai inovasi teknologi, apalagi peraih nobel. Namun, dengan bangga mereka berkumpul. Menyatukan visi, menyamakan persepsi, meyakinkan diri bahwa bangsa ini akan mengalami transformasi dan bangkit. Momentum itu telah menjadi saksi sejarah kebanggaan pemuda </span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">. Kebanggaan yang lahir dari rasa percaya diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Ya, percaya diri. Itulah kunci semangat kebangsaan dalam kongres pemuda 28 Oktober 1908 silam. Semangat yang sudah 80 tahun dirayakan dan menjadi hari besar nasional </span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">. Percaya diri pulalah yang mendorong mereka merumuskan ruh kebanggaan bangsa dengan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, </span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Rasa percaya diri ini lahir bukan karena kehebatan dengan segudang prestasi bersimbol medali, melainkan karena niat baik yang tertanam dalam gelora jiwa kaum muda. Niat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa—menyatukan nusantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span> </span>Ada harapan, ketika bangsa yang memiliki tak kurang dari<span> </span>17.500 pulau dengan 350 suku dan berbagai dialek bahasa ini bersatu akan merdeka dan menjadi bangsa besar yang memimpin imperium jagad raya. Namun, harapan itu seolah pudar seiring krisis <span> </span>percaya diri yang menimpa kaum muda saat ini. “Ah, saya hanya orang biasa, IP saya rendah, saya tidak biasa bicara di depan publik, dst…” demikian biasanya alasan yang dilontarkan ketika ditanya mengenai rasa percaya diri. Berat rasanya menumbuhkan kepercayaan diri, bahkan tak sedikit<span> </span>yang harus mengikuti berbagai pelatihan dan training agar rasa<em> pede</em> tumbuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span> </span>Apakah benar menumbuhkan percaya diri itu sulit sampai seseorang harus juara ini-itu, menguasai bidang tertentu, dan mengikuti berbagai<span> </span>training? Tak bisa dipungkiri memang, seseorang dengan segudang prestasi dapat memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Namun, jika tidak cermat, alih-alih merasa <em>pede</em>, malah bisa berakibat lupa diri. Mario Teguh dengan <em>Golden Ways</em>-nya pernah mengungkapkan, <em>kita percaya diri bukan karena hebat, melainkan karena ingin berbuat baik. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Niat baik, itulah kuncinya. Layaknya para pemuda 1908 berkumpul dengan niat baik yang membuat mereka yakin dan percaya diri. Niat baik yang berujung pada semangat kebangsaan. Menjadi embrio yang kelak mempermudah bangsa ini untuk maju dan berkembang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Mudah dan sederhana sekali. Kepercayaan diri ternyata tumbuh karena keinginan untuk memberikan yang terbaik. Tak perlu segudang medali, tak perlu IP tinggi, apalagi sekedar jago orasi. Cukup dengan menumbuhkan niat baik di setiap momentum sehingga rasa percaya diri akan selalu mewarnai hari-hai kaum muda untuk mengukir prestasi. Prestasi membanggakan anak negeri yang pada akhirnya akan memperkuat rasa percaya diri dan melahirkan semangat kebangsaan (lagi). []</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggaantagia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggaantagia.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=34&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/07/menyoal-percaya-diri-generasi-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari “Itadakimasu”</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/belajar-dari-%e2%80%9citadakimasu%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/belajar-dari-%e2%80%9citadakimasu%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 08:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggaantagia.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[“Bahwa segala yang kita terima bukanlah hak yang serta merta datang sendiri” (ST. Kartono dalam Kumpulan Esei Menabur Benih Keteladanan) Aki menyatukan kedua tangannya dan membungkuk sedikit sambil mengucapkan “itadakimasu” saat akan memulai makan. Itulah pengalaman pertama saya makan dengan orang Jepang, Aki, mahasiswa Hiroshima University of Economic yang melakukan studi banding ke Fakultas Ekonomi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=30&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span style="font-family:&quot;color:black;">“Bahwa segala yang kita terima bukanlah hak yang serta merta datang sendiri”</span></em><span style="font-family:&quot;color:black;"> (ST. Kartono dalam Kumpulan Esei </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">Menabur Benih Keteladanan)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;color:black;">Aki menyatukan kedua tangannya dan membungkuk sedikit sambil mengucapkan “</span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadakimasu</span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">” saat akan memulai makan. Itulah pengalaman pertama saya makan dengan orang Jepang, Aki, mahasiswa </span><span style="font-family:&quot;color:black;">Hiroshima</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> University</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> of </span><span style="font-family:&quot;color:black;">Economic</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> yang melakukan studi banding ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;color:black;">Bagi yang baru pertama kali melihat mungkin akan terasa lucu dan aneh. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “selamat makan”, tentu jadinya menggelikan. Atau malah seperti ungkapan anak kecil, karena biasanya ungkapan-ungkapan tersebut familiar di dalam cerita kartun buatan Jepang yang sering ditonton oleh anak-anak negeri ini. Namun, begitulah tradisi orang Jepang yang selalu mengucapkan </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">setiap akan makan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Etimologi “Itadakimasu”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;color:black;">Dalam kamus etimologi </span><span style="font-family:&quot;color:black;">disebutkan bahwa </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">adalah salam (</span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">aisatsu</span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">) yang diucapkan saat seseorang mulai makan maupun menerima barang. Etimologinya (asal-usulnya) adalah </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadaki </span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">pada </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">adalah bentuk konjungtif dari </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">itadaku</span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">, makna asli</span><em><span style="font-family:&quot;color:black;"> itadaku </span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">adalah menempatkan sesuatu di atas kepala seperti halnya </span><em><span style="font-family:&quot;color:black;">onyomi: “</span></em><span style="font-family:&quot;color:black;">cho”</span><em><span style="font-family:&quot;"> kunyomi: </span></em><span style="font-family:&quot;">“itadaki”) yang dipakai untuk menyatakan tempat tetinggi dari gunung atau kepala.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Setelah abad pertengahan, istilah </span><em><span style="font-family:&quot;">itadaku </span></em><span style="font-family:&quot;">ini muali dipakai sebagai bentuk sopan (</span><em><span style="font-family:&quot;">kenjogo/ </span></em><span style="font-family:&quot;">merendahkan diri dari orang yang hierarkinya lebih tinggi (</span><em><span style="font-family:&quot;">jouisha)</span></em><span style="font-family:&quot;">, barang yang diterima tersebut ditaruh di atas kepala. Kemudian, saat seseorang menerima barang dari </span><em><span style="font-family:&quot;">jouisha, </span></em><span style="font-family:&quot;">maupun saat memakan makanan yang disajikan kepada sang Budha atau Dewa Agama Shinto, membuat gerakan seolah menaruh barang tersebut di atas kepala dan baru mulai memakannya. Maka lahirlah kebiasaan memakai istilah </span><em><span style="font-family:&quot;">itadaku </span></em><span style="font-family:&quot;">sebagai bentuk sopan (</span><em><span style="font-family:&quot;">kenjogo</span></em><span style="font-family:&quot;">) dari </span><em><span style="font-family:&quot;">taberu </span></em><span style="font-family:&quot;">(makan) dan </span><em><span style="font-family:&quot;">nomu </span></em><span style="font-family:&quot;">(minum), karena itu, tardisi Jepang saat mulai makan adalah dengan mengucapkan </span><em><span style="font-family:&quot;">itadakimasu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;">Tak Sekedar Ungkapan Terima Kasih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ucapan </span><em><span style="font-family:&quot;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;">tak hanya ritual kepada Budha dan Dewa Shinto seperti penjelasan di atas saja. Tetapi, ucapan ini juga berarti ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah bekerja keras dalam rantai proses tersedianya hidangan itu. Yaitu kepada petani yang telah menanam padi di sawah, kepada nelayan yang telah menangkap ikan, dan kepada ikan, sapi, serta hewan dan tumbuhan lainnya yang telah “berkorban nyawa” demi tersedianya santapan yang bisa mereka nikmati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ungkapan i</span><em><span style="font-family:&quot;">tadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;">tersebut merupakan pengaruh dari ajaran Shinto. Jika dicermati lebih jauh, makna yang terkandung di balik ungkapan tersebut sangat dalam. Meskipun mereka (orang Jepang) tidak bertemu langsung dengan para petani, nelayan, atau pedagang, saat mereka akan makan, namun melalui ucapan </span><em><span style="font-family:&quot;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;">merupakan penghargaan sekaligus ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah berjasa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;">Budaya Terima Kasih Kita</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tradisi mengucapkan </span><em><span style="font-family:&quot;">itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;">sekilas memang sangat sederhana, akan tetapi bukanlah hal kecil yang bisa dianggap sepele. Sebagai mahasiswa, saya sering mengamati budaya berterima kasih di lingkungan kampus. Hal paling sederhana misalnya ketika para petugas pengawas ujian membagikan kertas ujian, jarang sekali saya mendengar teman mahasiswa yang mengucapkan terima kasih. Bahkan, ketika saya mengucapkannya kepada petugas tersebut, teman di sebalah saya menoleh sambil mengerutkan keningnya. Ironisnya, si petugas pun tidak menangapinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kebiasaan yang tidak heroik, atau malah dicap kekanak-kanakan, begitulah kesan yang timbul saat mengucapkan terima kasih. Hal ini juga dapat kita lihat dalam narasi sejarah yang mencatat kisah kepahlawanan. Dalam bukubuku sejarah, sosok pahlawan yang dicatat adalah supremasi militer atas sipil dan tentunya pastilah sosok seorang yang berpangkat-jabatan.Saya yakin, di balik kisah perjuangan itu ada ibu-ibu dan perempuan desa yang memasok nasi, orang-orang desa yang memberikan persembunyian atau seteguk air kepada para prajurit. Namun, mereka tidak pernah diekspose dan ditulis dalam buku-buku sejarah. Atau setidaknya dijelaskan oleh guru-guru di sekolah bahwa perjuangan para pahlawan tersebut tak lepas dari dukungan orang-orang yang ada dibelakang layear.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Belajar dari tradisi masyarakat Jepang yang selalu mengucapkan</span><em><span style="font-family:&quot;"> itadakimasu </span></em><span style="font-family:&quot;">adalah belajar bagaimana memaknai dan menghargai mereka yang berada di belakang layar. Mereka yang telah menjadikan kita dapat menikmati hak kita. Dengan ucapan terima kasih, dapat menyadarkan bahwa segala hak yang kita terima bukanlah hal yang serta merta datang dengan sendirinya. Di samping itu, di balik ungkapan terima kasih tersimpan penghargaan kepada sesama, orang lain, atau rekan kerja yang turut andil dalam kesuksesan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;">Epilog</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:&quot;">Jika engkau menghargainya, maka ia belajar berterima kasih. </span></em><span style="font-family:&quot;">Begitulah ungkapan yang mengharuskan kita untuk senantiasa membudayakan terima kasih. Budaya yang tidak sekedar diucapkan melainkan juga memaknainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tentu, semuanya berawal dari keteladanan dan pendidikan. Apabila budaya ini telah menjadi perilaku individu, maka akumulasi perilaku individu tersebut akan menjadi budaya kolektif yang akan mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak lagi lupa berterima kasih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-family:&quot;">Saat dua kata itu semakin jarang terdengar.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggaantagia.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggaantagia.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=30&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/belajar-dari-%e2%80%9citadakimasu%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika si Kecil Berbuah Syurga</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/ketika-si-kecil-berbuah-syurga/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/ketika-si-kecil-berbuah-syurga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 07:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggaantagia.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[“Seandainya masih jauh.. Seadainya masih baru.. Seandainya semuanya…” Begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saat menghadapi sakaratul maut. Sang istri dan karib kerabat yang menyaksikan kejadian tersebut bertanya-tanya, apa gerangan maksud perkataan tersebut. Sampai akhirnya sahabat tersebut menghadap Sang Khalik dengan kalimat tauhid dipenghujung nafasnya. Sang Istri pun menemui Rasulullah dan menanyakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=22&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></em><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><br />
<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;">“Seandainya masih jauh..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Seadainya masih baru..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Seandainya semuanya…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></em><span style="font-family:&quot;">Begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saat menghadapi sakaratul maut. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sang istri dan karib kerabat yang menyaksikan kejadian tersebut bertanya-tanya, apa gerangan maksud perkataan tersebut. Sampai akhirnya sahabat tersebut menghadap Sang Khalik dengan kalimat tauhid dipenghujung nafasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Sang Istri pun menemui Rasulullah dan menanyakan perihal kematian suaminya. ”Ya Rasulullah, ketika sakaratul maut, suami saya mengucapkan tiga hal, <em>pertama, </em>seanadainya masih jauh, <em>kedua, </em>seandainya masih baru, <em>ketiga,</em> seandainya semuanya.” Ujaranya kepada Rasulullah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Rasulullah pun terdiam sejenak menunggu wahyu dari Allah perihal kemtian sahabat tersebut. Tak lama kemudian, Rasulullah pun berkata, ”Wahai istri sahabatku, tiga hal yang diucapkan suamimu saat sakaratul maut adalah hal yang telah mengantarnya kepada syurga. ” Ungkap Rasulullah datar. ”Apa itu wahai Rasul?” Sang istri tersebut makin penasaran. Lalu Rasulullah pun menjelaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">”<em>Seandainya masih jauh, </em>ungkapan itu adalah cerminan kejadian yang dialami oleh suamimu saat akan menunaikan shalat shubuh berjamaah di masjid. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih hendak menuju masjid. Akhirnya suamimu menawarkan untuk menggendong sang kakek, sampai akhirnya sang kakek pun ikut shalat berjamaah pada shubuh itu. Di penghujung ajalnya, suamimu berkata <em>”Seandainya jarak masjid itu masih jauh, tentu aku akan mendapat nikamt yang lebih besar lagi.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">”Sedangkan ungkapan yang kedua adalah kejadian saat suamimu pulang berdagang pada waktu musim dingin. Ketika memasuki kota Madinah, dia melihat seorang pengemis terduduk di pojok kota. Pengemis itu menggigil kedinginan. Suamimu menghampirinya dan ia pun<span> </span>memberikan mantel yang ia miliki kepada pengemis tersebut. Saat skarataul maut dia berkata ”<em>seandainya mantel yang aku berikan masih baru, tentu aku akan mendapat kebahagiaan yang lebih besar lagi.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span></span></em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">”Dan yang terakhir, seandainya semuanya. Ingatkah engkau ketika kalian sekeluarga makan malam hanya dengan sepotong roti bersama dengan anak-anak dan suamimu. Lalu pada saat itu, datang seorang pengemis meminta makan. Suamimu menghampiri sang pengemis dan memberikan sebagian roti yang kalian miliki pada saat itu. Sebelum Izrail mencabut nyawanya, ia berkata ”<em>Seandainya aku memberikan roti itu semuanya tentu akan lebih besar lagi nikmat yang Allah berikan padaku. </em>Begitulah, Allah telah memberikan rahmat kepada suamimu dengan balasan syurga atas perbuatannya itu.” Rasulullah mengakhiri penjelasannya. Sang istri pun akhirnya mengerti, dan ia pun berlalu meninggalkan Rasulullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">* <span> </span>*<span> </span>*</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Banyak orang jatuh bukan karena batu yang besar, melainkan hanya karena sandungan kerikil kecil di jalanan. Begitulah, tak jarang kita melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa memberikan pengaruh besar. Seperti kisah sahabat di atas. Hanya dengan menggendong seorang kakek pergi ke masjid untuk shalat shubuh, memberikan mantel kepada pengemis, dan membagi roti untuk makan bagi pengemis, berkat keikhlasannya, akhirnya Allah pun membalasnya dengan syurga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Tak mudah memang untuk selalu memaknai setiap aktivitas sekecil apa pun itu sebagai hal yang akan membawa kita ke syurga. Dibutuhkan kesungguhan dan keyakinan untuk selalu meluruskan hati dan memantapkan orientasi bahwa mulai saat ini tak perlu muluk-muluk untuk mencari rahmat dari Allah. Momen Idul Fitri adalah sarana yang tepat untuk menyemai benih kebaikan. Mulai dari sekadar berkirim SMS mengucakpan selamat lebaran, silaturrahim dan mengunjungi sanak famili serta karib kerabat, sampai memberikan hadiah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Tak ada salahnya mencoba menanamkan dalam diri kita bahwa sekecil apa pun hal yang kita lakukan pasti mendapat balasan dari Allah, termasuk memetik hasil berupa buah syurgaNya kelak. amin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Wallahu a’lam bishawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggaantagia.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggaantagia.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=22&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/02/03/ketika-si-kecil-berbuah-syurga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syuro dan Emosi Kita</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/01/31/syuro-dan-emosi-kita/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/01/31/syuro-dan-emosi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 14:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggaantagia.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[‘Apapun masalahnya, syuro jalan tengahnya’. Kalau minuman saja bisa mengklaim dirinya untuk menjadi pendamping bagi setiap menu, mengapa tidak dengan syuro. Apalagi jelas-jelas telah mendapat jaminan oleh pemilik jagad ini, Allah azza wa jalla. Adalah keniscayaan jika setiap perkara, sangat dianjurkan untuk menakarnya dengan menggunakan timbangan syuro. Bahkan untuk perkara personal sekalipun, pilihan dalam menikah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=15&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span> ‘Apapun masalahnya, syuro jalan tengahnya’. Kalau minuman saja bisa mengklaim dirinya untuk menjadi pendamping bagi setiap menu, mengapa tidak dengan syuro. <span> </span>Apalagi jelas-jelas telah mendapat jaminan oleh pemilik jagad ini, Allah <em>azza wa jalla.</em> Adalah keniscayaan jika setiap perkara, sangat dianjurkan untuk menakarnya dengan menggunakan timbangan syuro. Bahkan untuk perkara personal sekalipun, pilihan dalam menikah misalnya. Tidak perlu takut salah dalam keputusan yang diambil karena lebih baik keputusan yang tidak tepat namun hasil musyawarah, daripada keputusan yang benar akan tetapi hasil keputusan sendiri. Hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah saw sebagai teladan dalam semua aspek kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Saya tidak akan berpanjang lebar mengulas epistmologi dan urgensi syuro. Saya yakin, kita sudah sangat paham dengan aktivitas yang hampir tiap hari digawangi ini. Sampai-sampai ada yang melakukan layaknya minum obat—tiga kali sehari. Pagi di masjid ini, siang di sekretariat itu, dan <em>ba’da</em> Ashar di taman pojok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Menarik. Itu dulu kesan awal ketika pertama kali bersentuhan dengan dunia per-syuro-an. Bisa dikatakan, 45 persen kedewasaan saya matang di sini. Kepekaan berpikir, kematangan konsep, ide-ide kreatif, dan hasil yang jitu berkumpul menjadi satu dalam wadah bernama syuro. Berbagai referensi pun memperkuat kepahaman. <em>Menikmati Demokrasi-</em>nya Annis Matta adalah literatur pertama yang ‘mamaksa’ saya memahami urgensi syuro, sampai catatan-catatan memoarnya Ustadz Hasan ketika berjuang di Mesir. Senada. Ulasannya tidak jauh berbeda. Namun, ketika mengunyah salah satu potongan <em>pizza</em>-nya ustadz Cahyadi Takariawan, ada pelajaran baru yang terasa—setidaknya bagi saya—bahwa syuro dapat menciptakan kestabilan emosi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dalam ramuan kata-katanya, Ustadz Cah memaparkan ungkapan Ali bin Abi Thalib<em>. “Tujuh manfaat dari musyawarah yaitu dapat mengambil kesimpulan yang benar, mencari pendapat, menjaga diri dari kekeliruan, menghindarkan celaan, keterpaduan hati, mengikuti atsar, dan menciptakan stabilitas emosi.”<span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Poin satu sampai enam adalah hal lazim yang dirasakan. Namun, manfaat ketujuh bagi saya adalah hal baru, atau bahkan agak bertentangan. Apa benar syuro menstabilkan emosi. Kalau mendewasakan, itu pasti. Karena demikian jawaban yang sering didapat ketika salah seorang aktivis curhat mengenai kondisi syuro-syuro yang dibidaninya. “Insya Allah ini proses pendewasaan akhi…” bisanya diutarakan sambil menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Berat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dewasa memang identik dengan emosi yang stabil. Tapi uniknya, Ali bin Abi Thalib tidak menyebutnya sebagai bentuk pendewasaan diri. Sekedar pengalihan maksud? Saya kira tidak. Ada penekanan penting di sana. Bahwa, seharusnya syuro menjadikan irama hari kita mengalun seiring ritme natural alam. Karena kestabilan emosi akan melahirkan keseimbangan ritme hidup (teman-teman psikologi tentu lebih paham mengenai ini).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Pertanyaannya adalah, benarkah perjalanan kita dari syuro yang satu ke syuro yang lain telah meredam emosi yang tadinya meluap-luap atau emosi yang selalu tertahan hingga mulut tak mampu bergumam saat diminta mengutarakan pendapat telah menjadi emosi yang stabil? sehingga syuro tidak lagi menjadi beban dan momok yang sangat menakutkan yang membuat kita uring-uringan bahkan tanpa sadar menjadi sensitif atau pendiam dan bungkam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Saatnya melihat kembali narasi syuro yang kita jalani. Saya meyakini kebenaran ungkapan Ali di atas. Ada benang merah antara syuro dengan kestabilan emosi. Dinamikanya mestimulus, perkara-perkara yang dibahas mematangkan, dan solusi-solusi yang ditawarkan menyegarkan pikiran dan syaraf otak yang menjadi pusat komando emosi seseorang. Bersyukurlah, kita tidak perlu ikut training manajemen emosi dengan kompensasi jutaan. Karena, sejatinya kita telah menjalani training itu, tanpa slide presentasi, tanpa <em>sound system</em> menggema, dan tanpa ruangan ber-AC. <em>Purly, learning by doing</em>. Bahkan setiap hari. <strong>[antagia]</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span>Bulaksumur, ketika hujan kian menyejukan emosi jiwa, </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span>saat menunggu syuro di mulai, bad’da Ashar.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggaantagia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggaantagia.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=15&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2009/01/31/syuro-dan-emosi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati Meander&#8211;Sebuah Pembuka</title>
		<link>http://anggaantagia.wordpress.com/2008/12/09/menikmati-meander-sebuah-pembuka/</link>
		<comments>http://anggaantagia.wordpress.com/2008/12/09/menikmati-meander-sebuah-pembuka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 14:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antagia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celutuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Untuk yang kesekian kalinya, arus semangat itu terhalang meander. Mau atau tidak, harus menghantam. Sakit memang, tapi cuma sesaat. Dan sesudahnya, energi arus itu akan semakit kuat. Menyusuri aliran panjang kehidupan, hingga bermuara di samudera kelapangan jiwa.&#8221; Sekadar pembuka, setelah sekian lama ingin sekali mengutak-atik blog. Berbagi dan belajar dari guru kehidupan di dunia maya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=1&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Untuk yang kesekian kalinya, arus semangat itu terhalang meander. Mau atau tidak, harus menghantam. Sakit memang, tapi cuma sesaat. Dan sesudahnya, energi arus itu akan semakit kuat. Menyusuri aliran panjang kehidupan, hingga bermuara di samudera kelapangan jiwa.&#8221; </em></strong></p>
<p>Sekadar pembuka, setelah sekian lama ingin sekali mengutak-atik blog. Berbagi dan belajar dari guru kehidupan di dunia maya. Namun, baru kali ini terwujud. Banyak dalih tadinya, sibuklah,  warnet lemot lah, males dan sederetan alasan lainnya.. Begitulah manusia, sering mengkambingputihkan dan jarang menyadari kelemahan sebagai pelajaran.</p>
<p>Semoga blog ini menjadi ibadah karena ada ilmu yang selalu dapat dibagi, pengalaman yang memberi inspirasi, dan kata yang menggerakkan nurani&#8230;</p>
<p style="text-align:right;"><em>Saat-saat memaknai ketulusan Ismail</em></p>
<p style="text-align:right;"><em>11 Dzulhijah 1429H<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggaantagia.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggaantagia.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggaantagia.wordpress.com&amp;blog=5793003&amp;post=1&amp;subd=anggaantagia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggaantagia.wordpress.com/2008/12/09/menikmati-meander-sebuah-pembuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0b6580d43935bc24fc0a8ae88905631f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggaantagia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
