Posted by: Antagia | February 7, 2009

Menyoal Percaya Diri Generasi Muda

Mereka bukan pemenang olimpiade internasional. Bukan pula penemu berbagai inovasi teknologi, apalagi peraih nobel. Namun, dengan bangga mereka berkumpul. Menyatukan visi, menyamakan persepsi, meyakinkan diri bahwa bangsa ini akan mengalami transformasi dan bangkit. Momentum itu telah menjadi saksi sejarah kebanggaan pemuda Indonesia. Kebanggaan yang lahir dari rasa percaya diri.

Ya, percaya diri. Itulah kunci semangat kebangsaan dalam kongres pemuda 28 Oktober 1908 silam. Semangat yang sudah 80 tahun dirayakan dan menjadi hari besar nasional Indonesia. Percaya diri pulalah yang mendorong mereka merumuskan ruh kebanggaan bangsa dengan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

Rasa percaya diri ini lahir bukan karena kehebatan dengan segudang prestasi bersimbol medali, melainkan karena niat baik yang tertanam dalam gelora jiwa kaum muda. Niat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa—menyatukan nusantara.

Ada harapan, ketika bangsa yang memiliki tak kurang dari 17.500 pulau dengan 350 suku dan berbagai dialek bahasa ini bersatu akan merdeka dan menjadi bangsa besar yang memimpin imperium jagad raya. Namun, harapan itu seolah pudar seiring krisis percaya diri yang menimpa kaum muda saat ini. “Ah, saya hanya orang biasa, IP saya rendah, saya tidak biasa bicara di depan publik, dst…” demikian biasanya alasan yang dilontarkan ketika ditanya mengenai rasa percaya diri. Berat rasanya menumbuhkan kepercayaan diri, bahkan tak sedikit yang harus mengikuti berbagai pelatihan dan training agar rasa pede tumbuh.

Apakah benar menumbuhkan percaya diri itu sulit sampai seseorang harus juara ini-itu, menguasai bidang tertentu, dan mengikuti berbagai training? Tak bisa dipungkiri memang, seseorang dengan segudang prestasi dapat memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Namun, jika tidak cermat, alih-alih merasa pede, malah bisa berakibat lupa diri. Mario Teguh dengan Golden Ways-nya pernah mengungkapkan, kita percaya diri bukan karena hebat, melainkan karena ingin berbuat baik.

Niat baik, itulah kuncinya. Layaknya para pemuda 1908 berkumpul dengan niat baik yang membuat mereka yakin dan percaya diri. Niat baik yang berujung pada semangat kebangsaan. Menjadi embrio yang kelak mempermudah bangsa ini untuk maju dan berkembang.

Mudah dan sederhana sekali. Kepercayaan diri ternyata tumbuh karena keinginan untuk memberikan yang terbaik. Tak perlu segudang medali, tak perlu IP tinggi, apalagi sekedar jago orasi. Cukup dengan menumbuhkan niat baik di setiap momentum sehingga rasa percaya diri akan selalu mewarnai hari-hai kaum muda untuk mengukir prestasi. Prestasi membanggakan anak negeri yang pada akhirnya akan memperkuat rasa percaya diri dan melahirkan semangat kebangsaan (lagi). []

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.