“Seandainya masih jauh..
Seadainya masih baru..
Seandainya semuanya…”
Begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saat menghadapi sakaratul maut. Sang istri dan karib kerabat yang menyaksikan kejadian tersebut bertanya-tanya, apa gerangan maksud perkataan tersebut. Sampai akhirnya sahabat tersebut menghadap Sang Khalik dengan kalimat tauhid dipenghujung nafasnya.
Sang Istri pun menemui Rasulullah dan menanyakan perihal kematian suaminya. ”Ya Rasulullah, ketika sakaratul maut, suami saya mengucapkan tiga hal, pertama, seanadainya masih jauh, kedua, seandainya masih baru, ketiga, seandainya semuanya.” Ujaranya kepada Rasulullah.
Rasulullah pun terdiam sejenak menunggu wahyu dari Allah perihal kemtian sahabat tersebut. Tak lama kemudian, Rasulullah pun berkata, ”Wahai istri sahabatku, tiga hal yang diucapkan suamimu saat sakaratul maut adalah hal yang telah mengantarnya kepada syurga. ” Ungkap Rasulullah datar. ”Apa itu wahai Rasul?” Sang istri tersebut makin penasaran. Lalu Rasulullah pun menjelaskan.
”Seandainya masih jauh, ungkapan itu adalah cerminan kejadian yang dialami oleh suamimu saat akan menunaikan shalat shubuh berjamaah di masjid. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih hendak menuju masjid. Akhirnya suamimu menawarkan untuk menggendong sang kakek, sampai akhirnya sang kakek pun ikut shalat berjamaah pada shubuh itu. Di penghujung ajalnya, suamimu berkata ”Seandainya jarak masjid itu masih jauh, tentu aku akan mendapat nikamt yang lebih besar lagi.”
”Sedangkan ungkapan yang kedua adalah kejadian saat suamimu pulang berdagang pada waktu musim dingin. Ketika memasuki kota Madinah, dia melihat seorang pengemis terduduk di pojok kota. Pengemis itu menggigil kedinginan. Suamimu menghampirinya dan ia pun memberikan mantel yang ia miliki kepada pengemis tersebut. Saat skarataul maut dia berkata ”seandainya mantel yang aku berikan masih baru, tentu aku akan mendapat kebahagiaan yang lebih besar lagi.”
”Dan yang terakhir, seandainya semuanya. Ingatkah engkau ketika kalian sekeluarga makan malam hanya dengan sepotong roti bersama dengan anak-anak dan suamimu. Lalu pada saat itu, datang seorang pengemis meminta makan. Suamimu menghampiri sang pengemis dan memberikan sebagian roti yang kalian miliki pada saat itu. Sebelum Izrail mencabut nyawanya, ia berkata ”Seandainya aku memberikan roti itu semuanya tentu akan lebih besar lagi nikmat yang Allah berikan padaku. Begitulah, Allah telah memberikan rahmat kepada suamimu dengan balasan syurga atas perbuatannya itu.” Rasulullah mengakhiri penjelasannya. Sang istri pun akhirnya mengerti, dan ia pun berlalu meninggalkan Rasulullah.
* * *
Banyak orang jatuh bukan karena batu yang besar, melainkan hanya karena sandungan kerikil kecil di jalanan. Begitulah, tak jarang kita melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa memberikan pengaruh besar. Seperti kisah sahabat di atas. Hanya dengan menggendong seorang kakek pergi ke masjid untuk shalat shubuh, memberikan mantel kepada pengemis, dan membagi roti untuk makan bagi pengemis, berkat keikhlasannya, akhirnya Allah pun membalasnya dengan syurga.
Tak mudah memang untuk selalu memaknai setiap aktivitas sekecil apa pun itu sebagai hal yang akan membawa kita ke syurga. Dibutuhkan kesungguhan dan keyakinan untuk selalu meluruskan hati dan memantapkan orientasi bahwa mulai saat ini tak perlu muluk-muluk untuk mencari rahmat dari Allah. Momen Idul Fitri adalah sarana yang tepat untuk menyemai benih kebaikan. Mulai dari sekadar berkirim SMS mengucakpan selamat lebaran, silaturrahim dan mengunjungi sanak famili serta karib kerabat, sampai memberikan hadiah.
Tak ada salahnya mencoba menanamkan dalam diri kita bahwa sekecil apa pun hal yang kita lakukan pasti mendapat balasan dari Allah, termasuk memetik hasil berupa buah syurgaNya kelak. amin
Wallahu a’lam bishawab.