Posted by: Antagia | February 3, 2009

Belajar dari “Itadakimasu”

“Bahwa segala yang kita terima bukanlah hak yang serta merta datang sendiri” (ST. Kartono dalam Kumpulan Esei Menabur Benih Keteladanan)

Aki menyatukan kedua tangannya dan membungkuk sedikit sambil mengucapkan “itadakimasu” saat akan memulai makan. Itulah pengalaman pertama saya makan dengan orang Jepang, Aki, mahasiswa Hiroshima University of Economic yang melakukan studi banding ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu.

Bagi yang baru pertama kali melihat mungkin akan terasa lucu dan aneh. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “selamat makan”, tentu jadinya menggelikan. Atau malah seperti ungkapan anak kecil, karena biasanya ungkapan-ungkapan tersebut familiar di dalam cerita kartun buatan Jepang yang sering ditonton oleh anak-anak negeri ini. Namun, begitulah tradisi orang Jepang yang selalu mengucapkan itadakimasu setiap akan makan.

Etimologi “Itadakimasu”

Dalam kamus etimologi disebutkan bahwa itadakimasu adalah salam (aisatsu) yang diucapkan saat seseorang mulai makan maupun menerima barang. Etimologinya (asal-usulnya) adalah itadaki pada itadakimasu adalah bentuk konjungtif dari itadaku, makna asli itadaku adalah menempatkan sesuatu di atas kepala seperti halnya onyomi: “cho” kunyomi: “itadaki”) yang dipakai untuk menyatakan tempat tetinggi dari gunung atau kepala.

Setelah abad pertengahan, istilah itadaku ini muali dipakai sebagai bentuk sopan (kenjogo/ merendahkan diri dari orang yang hierarkinya lebih tinggi (jouisha), barang yang diterima tersebut ditaruh di atas kepala. Kemudian, saat seseorang menerima barang dari jouisha, maupun saat memakan makanan yang disajikan kepada sang Budha atau Dewa Agama Shinto, membuat gerakan seolah menaruh barang tersebut di atas kepala dan baru mulai memakannya. Maka lahirlah kebiasaan memakai istilah itadaku sebagai bentuk sopan (kenjogo) dari taberu (makan) dan nomu (minum), karena itu, tardisi Jepang saat mulai makan adalah dengan mengucapkan itadakimasu.

Tak Sekedar Ungkapan Terima Kasih

Ucapan itadakimasu tak hanya ritual kepada Budha dan Dewa Shinto seperti penjelasan di atas saja. Tetapi, ucapan ini juga berarti ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah bekerja keras dalam rantai proses tersedianya hidangan itu. Yaitu kepada petani yang telah menanam padi di sawah, kepada nelayan yang telah menangkap ikan, dan kepada ikan, sapi, serta hewan dan tumbuhan lainnya yang telah “berkorban nyawa” demi tersedianya santapan yang bisa mereka nikmati.

Ungkapan itadakimasu tersebut merupakan pengaruh dari ajaran Shinto. Jika dicermati lebih jauh, makna yang terkandung di balik ungkapan tersebut sangat dalam. Meskipun mereka (orang Jepang) tidak bertemu langsung dengan para petani, nelayan, atau pedagang, saat mereka akan makan, namun melalui ucapan itadakimasu merupakan penghargaan sekaligus ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah berjasa.

Budaya Terima Kasih Kita

Tradisi mengucapkan itadakimasu sekilas memang sangat sederhana, akan tetapi bukanlah hal kecil yang bisa dianggap sepele. Sebagai mahasiswa, saya sering mengamati budaya berterima kasih di lingkungan kampus. Hal paling sederhana misalnya ketika para petugas pengawas ujian membagikan kertas ujian, jarang sekali saya mendengar teman mahasiswa yang mengucapkan terima kasih. Bahkan, ketika saya mengucapkannya kepada petugas tersebut, teman di sebalah saya menoleh sambil mengerutkan keningnya. Ironisnya, si petugas pun tidak menangapinya.

Kebiasaan yang tidak heroik, atau malah dicap kekanak-kanakan, begitulah kesan yang timbul saat mengucapkan terima kasih. Hal ini juga dapat kita lihat dalam narasi sejarah yang mencatat kisah kepahlawanan. Dalam bukubuku sejarah, sosok pahlawan yang dicatat adalah supremasi militer atas sipil dan tentunya pastilah sosok seorang yang berpangkat-jabatan.Saya yakin, di balik kisah perjuangan itu ada ibu-ibu dan perempuan desa yang memasok nasi, orang-orang desa yang memberikan persembunyian atau seteguk air kepada para prajurit. Namun, mereka tidak pernah diekspose dan ditulis dalam buku-buku sejarah. Atau setidaknya dijelaskan oleh guru-guru di sekolah bahwa perjuangan para pahlawan tersebut tak lepas dari dukungan orang-orang yang ada dibelakang layear.

Belajar dari tradisi masyarakat Jepang yang selalu mengucapkan itadakimasu adalah belajar bagaimana memaknai dan menghargai mereka yang berada di belakang layar. Mereka yang telah menjadikan kita dapat menikmati hak kita. Dengan ucapan terima kasih, dapat menyadarkan bahwa segala hak yang kita terima bukanlah hal yang serta merta datang dengan sendirinya. Di samping itu, di balik ungkapan terima kasih tersimpan penghargaan kepada sesama, orang lain, atau rekan kerja yang turut andil dalam kesuksesan.

Epilog

Jika engkau menghargainya, maka ia belajar berterima kasih. Begitulah ungkapan yang mengharuskan kita untuk senantiasa membudayakan terima kasih. Budaya yang tidak sekedar diucapkan melainkan juga memaknainya.

Tentu, semuanya berawal dari keteladanan dan pendidikan. Apabila budaya ini telah menjadi perilaku individu, maka akumulasi perilaku individu tersebut akan menjadi budaya kolektif yang akan mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak lagi lupa berterima kasih.

Saat dua kata itu semakin jarang terdengar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.