Posted by: Antagia | January 31, 2009

Syuro dan Emosi Kita

‘Apapun masalahnya, syuro jalan tengahnya’. Kalau minuman saja bisa mengklaim dirinya untuk menjadi pendamping bagi setiap menu, mengapa tidak dengan syuro. Apalagi jelas-jelas telah mendapat jaminan oleh pemilik jagad ini, Allah azza wa jalla. Adalah keniscayaan jika setiap perkara, sangat dianjurkan untuk menakarnya dengan menggunakan timbangan syuro. Bahkan untuk perkara personal sekalipun, pilihan dalam menikah misalnya. Tidak perlu takut salah dalam keputusan yang diambil karena lebih baik keputusan yang tidak tepat namun hasil musyawarah, daripada keputusan yang benar akan tetapi hasil keputusan sendiri. Hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah saw sebagai teladan dalam semua aspek kehidupan.

Saya tidak akan berpanjang lebar mengulas epistmologi dan urgensi syuro. Saya yakin, kita sudah sangat paham dengan aktivitas yang hampir tiap hari digawangi ini. Sampai-sampai ada yang melakukan layaknya minum obat—tiga kali sehari. Pagi di masjid ini, siang di sekretariat itu, dan ba’da Ashar di taman pojok.

Menarik. Itu dulu kesan awal ketika pertama kali bersentuhan dengan dunia per-syuro-an. Bisa dikatakan, 45 persen kedewasaan saya matang di sini. Kepekaan berpikir, kematangan konsep, ide-ide kreatif, dan hasil yang jitu berkumpul menjadi satu dalam wadah bernama syuro. Berbagai referensi pun memperkuat kepahaman. Menikmati Demokrasi-nya Annis Matta adalah literatur pertama yang ‘mamaksa’ saya memahami urgensi syuro, sampai catatan-catatan memoarnya Ustadz Hasan ketika berjuang di Mesir. Senada. Ulasannya tidak jauh berbeda. Namun, ketika mengunyah salah satu potongan pizza-nya ustadz Cahyadi Takariawan, ada pelajaran baru yang terasa—setidaknya bagi saya—bahwa syuro dapat menciptakan kestabilan emosi.

Dalam ramuan kata-katanya, Ustadz Cah memaparkan ungkapan Ali bin Abi Thalib. “Tujuh manfaat dari musyawarah yaitu dapat mengambil kesimpulan yang benar, mencari pendapat, menjaga diri dari kekeliruan, menghindarkan celaan, keterpaduan hati, mengikuti atsar, dan menciptakan stabilitas emosi.”

Poin satu sampai enam adalah hal lazim yang dirasakan. Namun, manfaat ketujuh bagi saya adalah hal baru, atau bahkan agak bertentangan. Apa benar syuro menstabilkan emosi. Kalau mendewasakan, itu pasti. Karena demikian jawaban yang sering didapat ketika salah seorang aktivis curhat mengenai kondisi syuro-syuro yang dibidaninya. “Insya Allah ini proses pendewasaan akhi…” bisanya diutarakan sambil menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Berat.

Dewasa memang identik dengan emosi yang stabil. Tapi uniknya, Ali bin Abi Thalib tidak menyebutnya sebagai bentuk pendewasaan diri. Sekedar pengalihan maksud? Saya kira tidak. Ada penekanan penting di sana. Bahwa, seharusnya syuro menjadikan irama hari kita mengalun seiring ritme natural alam. Karena kestabilan emosi akan melahirkan keseimbangan ritme hidup (teman-teman psikologi tentu lebih paham mengenai ini).

Pertanyaannya adalah, benarkah perjalanan kita dari syuro yang satu ke syuro yang lain telah meredam emosi yang tadinya meluap-luap atau emosi yang selalu tertahan hingga mulut tak mampu bergumam saat diminta mengutarakan pendapat telah menjadi emosi yang stabil? sehingga syuro tidak lagi menjadi beban dan momok yang sangat menakutkan yang membuat kita uring-uringan bahkan tanpa sadar menjadi sensitif atau pendiam dan bungkam.

Saatnya melihat kembali narasi syuro yang kita jalani. Saya meyakini kebenaran ungkapan Ali di atas. Ada benang merah antara syuro dengan kestabilan emosi. Dinamikanya mestimulus, perkara-perkara yang dibahas mematangkan, dan solusi-solusi yang ditawarkan menyegarkan pikiran dan syaraf otak yang menjadi pusat komando emosi seseorang. Bersyukurlah, kita tidak perlu ikut training manajemen emosi dengan kompensasi jutaan. Karena, sejatinya kita telah menjalani training itu, tanpa slide presentasi, tanpa sound system menggema, dan tanpa ruangan ber-AC. Purly, learning by doing. Bahkan setiap hari. [antagia]

Bulaksumur, ketika hujan kian menyejukan emosi jiwa,

saat menunggu syuro di mulai, bad’da Ashar.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.